▴BPSDM PROVINSI SULAWESI SELATAN▴ - Jufri Rahman: Potensi Wajo Perlu Disinergikan dengan Prioritas Pembangunan Sulsel 2027
- PENDIDIKAN TAK SEKADAR BERMUTU, TAPI HARUS BERDAMPAK
- BKN Apresiasi Gubernur Sulsel Jadikan Manajemen Talenta ASN Rujukan Nasional
- BUKAN SEKADAR JALAN MULUS - MYP Sulsel 2026 dan Jalan Panjang Menuju Pertumbuhan yang Merata
- BPSDM Sulsel Perkuat Kompetensi Regulasi Emosi ASN melalui Webinar ASN Adaptif Seri ke-65
- PENUTUPAN LATSAR CPNS PAREPARE, 83 PESERTA TUNTAS DI DUA LEMBAGA TERAKREDITASI
- HASIL MEMBANGGAKAN, SELURUH PESERTA LATSAR JENEPONTO XII LULUS
- SEBELUM MAKAN SIANG, PESERTA LATSAR IKUTI APEL
- PEMBINAAN SIKAP PERILAKU LATSAR CPNS DI PANTAI LOSARI
- SEKDA TAKALAR BUKA LATSAR JENEPONTO XII
BUKAN SEKADAR JALAN MULUS - MYP Sulsel 2026 dan Jalan Panjang Menuju Pertumbuhan yang Merata
Muharrir Muchlis
Berita Terkait
- MULTITASKING PADA WIDYAISWARA: ANTARA EFISIENSI DAN KUALITAS0
- PELAKSANAAN ORIENTASI ANGGOTA DPRD KAB. SINJAI DI HOTEL MERCURE0
- HARI KETIGA PELAKSANAAN ORIENTASI ANGGOTA DPRD KAB. SINJAI0
- HARI KETIGA PELAKSANAAN ORIENTASI ANGGOTA DPRD KAB. SINJAI0
- PEMBEKALAN ASN BKPSDM PROVINSI PAPUA PEGUNUNGAN 0
- KUNJUNGAN KERJA BKPSDM PROVINSI PAPUA PEGUNUNGAN KE BPSDM PROV. SULSEL0
- BELAJAR MENGAJI YANG DILAKSANAKAN DI MASJID KAMPUS 2 BPSDM PROV. SULSEL0
- BPSDM PROV. SULSEL BELAJAR MENGAJI DILAKSANAKAN DI MASJID KAMPUS II0
- KULTUM BADA DHUHUR DI KAMPUS 2 BPSDM PROV. SULSEL0
- KULIAH TUJUH MENIT BADA DHUHUR DI KAMPUS 2 BPSDM PROV. SULSEL0
Berita Populer
- MEMAHAMI PROSEDUR PEMBERIAN INFORMED CONSENT DALAM PRAKTEK KEDOKTERAN
- MENEMUKAN KEMBALI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI
- MENGENAL SINGKATAN PEJABAT DALAM PEMERINTAHAN Plt. Plh. Pj. dan Pjs.
- ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH PENGETAHUAN WAJIB BAGI PARA PEMIMPIN DAERAH
- APA ITU ASN DAN PPPK ?
- KENALI PELATIHAN PEMBEKALAN / ORIENTASI PEGAWAI PEMERINTAH DENGAN PERJANJIAN KERJA (PPPK).
- MENGENAL JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS BAGIAN KE DUA
- INTEGRITAS DAN PROFESIONALISME ASN DI ERA MILENIAL
- INTEGRITAS DAN KEPEMIMPINAN
- MENGENAL SERVANT LEADERSHIP

Deskripsi Singkat Artikel
Artikel “Bukan Sekadar Jalan Mulus: MYP Sulsel 2026 dan Jalan Panjang Menuju Pertumbuhan yang Merata” mengangkat pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan melalui program Multi Years Project (MYP) Sulawesi Selatan sebagai penggerak konektivitas, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan pembangunan.
Dengan menggunakan data terbaru yang tersedia hingga 2026, artikel ini tidak hanya membahas panjang jalan dan progres pembangunan, tetapi menyoroti dampak nyata MYP bagi masyarakat—mulai dari kemudahan distribusi hasil pertanian, akses pendidikan dan kesehatan, hingga terbukanya peluang ekonomi di berbagai kabupaten/kota.
Pesan utama artikel ini adalah bahwa keberhasilan MYP bukan sekadar berapa kilometer jalan yang dibangun, melainkan seberapa besar perubahan dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Infrastruktur yang kuat diharapkan menjadi fondasi bagi Sulawesi Selatan yang semakin maju, terkoneksi, produktif, dan berkarakter.
Infrastruktur Kuat, Sulsel Maju dan Berkarakter
Ada jalan yang hanya menghubungkan dua tempat. Namun ada jalan yang menghubungkan petani dengan pasar, anak dengan sekolah, pasien dengan rumah sakit, pelaku UMKM dengan konsumen, dan desa dengan kesempatan ekonomi.
Di Sulawesi Selatan, jalan adalah lebih dari sekadar infrastruktur fisik. Ia merupakan urat nadi yang menentukan seberapa cepat orang, barang, jasa, dan peluang bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Karena itu, ketika sebuah ruas jalan diperbaiki, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya aspal dan beton. Yang sedang dibangun adalah akses, efisiensi, kesempatan, dan masa depan masyarakat.
Di sinilah Multi Years Project atau MYP Sulawesi Selatan menemukan makna strategisnya.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar: berapa kilometer jalan yang dibangun?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Apa yang berubah dalam kehidupan masyarakat setelah jalan itu dibangun?
Ketika Infrastruktur Menjadi Penentu Kesempatan
Sulawesi Selatan memiliki wilayah yang luas dengan karakter geografis yang beragam. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tidak hanya berada di Makassar, tetapi tersebar di berbagai kabupaten dan kawasan yang memiliki potensi pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, pariwisata, dan industri.
Kondisi tersebut membuat konektivitas menjadi kebutuhan mendasar.
Data BPS menunjukkan bahwa statistik panjang jalan Sulawesi Selatan terus diperbarui hingga tahun 2025, termasuk berdasarkan kewenangan pemerintah dan kabupaten/kota. Data tersebut memperlihatkan bahwa jaringan jalan Sulsel merupakan infrastruktur yang sangat luas dan melibatkan banyak wilayah. (BPS Sulawesi Selatan)
Namun panjang jalan saja tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan pembangunan.
Jalan harus berfungsi.
Jalan harus aman.
Jalan harus mampu menghubungkan pusat produksi dengan pusat konsumsi.
Dan yang paling penting, jalan harus memberikan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.
Bagi seorang petani, jalan menentukan biaya membawa hasil panen ke pasar.
Bagi nelayan, jalan menentukan kemudahan distribusi hasil tangkapan.
Bagi pelaku UMKM, jalan menentukan seberapa mudah produknya menjangkau konsumen.
Bagi seorang siswa di wilayah pelosok, jalan menentukan berapa lama perjalanan menuju sekolah.
Bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, kualitas jalan bahkan dapat menjadi persoalan keselamatan dan waktu.
Dengan demikian, membangun jalan berarti membangun akses terhadap kehidupan.
MYP: Mengubah Cara Pandang terhadap Pembangunan
Program Multi Years Project infrastruktur jalan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menjadi salah satu instrumen strategis untuk mempercepat pembangunan konektivitas antardaerah.
Program ini dirancang dalam skema multiyears sehingga pembangunan tidak harus terhenti karena pergantian tahun anggaran. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk merencanakan pekerjaan secara lebih terintegrasi, menangani ruas secara bertahap, dan menjaga kesinambungan pekerjaan.
Pada 2026, implementasi MYP telah bergerak di berbagai paket pekerjaan.
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Sulawesi Selatan melaporkan bahwa Paket 3 menangani sekitar 254,85 kilometer pada 15 ruas jalan yang tersebar di sejumlah wilayah. (Putra Sulsel)
Sementara Paket IV juga mencakup sejumlah ruas strategis di Barru, Soppeng, Wajo, dan Bone, dengan nilai kontrak sekitar Rp615,6 miliar. (Putra Sulsel)
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa MYP bukan sekadar rencana di atas dokumen anggaran. Pada 2026, pekerjaan fisiknya telah berjalan di lapangan.
Pekerjaan pun tidak hanya berorientasi pada pengaspalan. Sejumlah paket mencakup peningkatan struktur jalan, bahu jalan, drainase, dan pekerjaan pendukung lainnya. (Putra Sulsel)
Artinya, pembangunan mulai diarahkan pada pertanyaan yang lebih fundamental:
Bagaimana membuat konektivitas menjadi lebih aman, lebih tahan lama, dan lebih bermanfaat?
Dari Paleteang hingga Enrekang: Jalan yang Menghubungkan Ekonomi
Salah satu contoh menarik adalah penanganan ruas Paleteang–Malimpung hingga Batas Kabupaten Enrekang dalam MYP Paket 3.
Ruas ini memiliki posisi penting karena menghubungkan wilayah Pinrang dan Sidrap menuju kawasan Enrekang dan sekitarnya.
Pada 2026, pekerjaan pada ruas tersebut mencakup peningkatan kualitas struktur dan daya tahan jalan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga melaporkan perkembangan pekerjaan pada ruas tersebut dalam rangka percepatan MYP. (Putra Sulsel)
Jika dilihat dari peta pembangunan, sebuah ruas jalan mungkin hanya terlihat sebagai garis yang menghubungkan dua wilayah.
Tetapi bagi ekonomi daerah, garis itu bisa menjadi jalur distribusi.
Ia dapat menjadi akses bagi hasil pertanian menuju pasar.
Ia dapat menjadi jalur mobilitas pekerja.
Ia dapat memperpendek waktu perjalanan.
Ia dapat menurunkan biaya operasional kendaraan.
Dan dalam jangka panjang, ia dapat meningkatkan daya tarik ekonomi kawasan yang dilaluinya.
Di sinilah pembangunan infrastruktur harus dibaca lebih luas.
Jalan bukan hanya menghubungkan wilayah. Jalan menghubungkan potensi dengan pasar.
Dari Angka Progres Menuju Angka Dampak
Ada kecenderungan dalam menilai pembangunan infrastruktur untuk berhenti pada angka progres.
Misalnya:
“Pekerjaan telah mencapai 60 persen.”
“Pengaspalan telah mencapai sekian kilometer.”
“Proyek telah selesai sekian persen.”
Angka-angka tersebut penting.
Tetapi angka tersebut baru menggambarkan output.
MYP Sulsel perlu didorong untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar, yaitu outcome dan impact.
Bayangkan jika setelah sebuah ruas jalan selesai:
- waktu tempuh masyarakat turun;
- biaya transportasi menjadi lebih rendah;
- distribusi hasil pertanian menjadi lebih cepat;
- kendaraan angkutan tidak lagi harus menghindari lubang;
- akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan semakin mudah;
- anak-anak dapat berangkat sekolah dengan lebih aman;
- aktivitas ekonomi baru tumbuh di sekitar koridor jalan.
Itulah dampak pembangunan.
Karena itu, ukuran keberhasilan MYP seharusnya tidak berhenti pada:
“Berapa kilometer yang dibangun?”
Tetapi dilanjutkan dengan:
“Berapa banyak waktu yang dihemat?”
“Berapa biaya logistik yang berkurang?”
“Berapa banyak masyarakat yang memperoleh akses lebih baik?”
“Berapa banyak aktivitas ekonomi yang tumbuh?”
Dan pertanyaan paling penting:
“Apakah kualitas hidup masyarakat benar-benar meningkat?”
Jalan yang Baik Harus Menghasilkan Ekonomi yang Lebih Baik
Pembangunan jalan memiliki hubungan erat dengan aktivitas ekonomi.
BPS bahkan menyediakan publikasi terbaru mengenai PDRB kabupaten/kota Sulawesi Selatan periode 2021–2025, yang dirilis pada 30 April 2026. Data tersebut memberikan basis untuk melihat perkembangan ekonomi masing-masing kabupaten/kota secara lebih objektif. (BPS Sulawesi Selatan)
Data ekonomi tersebut seharusnya dapat dipertemukan dengan data pembangunan infrastruktur.
Mengapa?
Karena pembangunan jalan seharusnya tidak berdiri sendiri.
Jika sebuah ruas jalan menghubungkan sentra produksi pertanian dengan pasar, maka keberhasilannya dapat dilihat dari perubahan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Jika jalan menghubungkan kawasan wisata dengan pusat kota, dampaknya dapat dilihat dari meningkatnya kemudahan akses wisatawan.
Jika jalan menghubungkan kawasan industri dengan pelabuhan atau pusat logistik, dampaknya dapat dilihat dari efisiensi distribusi.
Inilah pendekatan pembangunan yang berorientasi dampak.
Infrastruktur menjadi alat untuk menggerakkan ekonomi, bukan sekadar objek pembangunan.
Dari Jalan ke Jembatan: Tidak Boleh Ada Wilayah yang Terputus
Pembahasan infrastruktur jalan tidak dapat dipisahkan dari jembatan.
Jalan yang bagus tetapi terputus oleh sungai, lembah, atau hambatan geografis tetap tidak menghasilkan konektivitas yang optimal.
Bagi Sulawesi Selatan yang memiliki wilayah pegunungan, pesisir, lembah, dan berbagai bentang geografis, jembatan merupakan bagian penting dari sistem konektivitas.
Karena itu, paradigma pembangunan harus bergeser dari:
“membangun ruas jalan”
menjadi:
“membangun jaringan konektivitas.”
Jaringan yang baik adalah jaringan yang memungkinkan masyarakat bergerak secara aman dan efisien dari titik awal hingga tujuan.
Dengan demikian, jalan dan jembatan harus dirancang sebagai satu kesatuan.
Infrastruktur Kuat Harus Dibangun dengan Karakter Kuat
Tema lomba “Infrastruktur Kuat, Sulsel Maju dan Berkarakter” memiliki pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar pembangunan fisik.
Infrastruktur yang kuat membutuhkan karakter yang kuat.
Pemerintah membutuhkan integritas dalam merencanakan dan mengawasi proyek.
Pelaksana membutuhkan profesionalisme dalam menjaga mutu pekerjaan.
Pengawas membutuhkan keberanian untuk memastikan standar dipenuhi.
Masyarakat membutuhkan kepedulian untuk menjaga infrastruktur yang telah dibangun.
Dan pengguna jalan membutuhkan kedisiplinan untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
Sebab jalan yang dibangun dengan anggaran publik adalah milik masyarakat.
Ia bukan hanya aset pemerintah.
Ia adalah aset bersama.
Maka, pembangunan fisik harus berjalan bersama pembangunan karakter.
Tantangan MYP: Jangan Berhenti Saat Aspal Mengering
Pembangunan multiyears memberikan keuntungan berupa kesinambungan pekerjaan.
Namun kesinambungan pembangunan juga harus diikuti kesinambungan pemeliharaan.
Jalan yang selesai hari ini tidak boleh dibiarkan menjadi persoalan baru beberapa tahun kemudian.
Karena itu, ada tiga hal yang harus menjadi perhatian.
Pertama, kualitas.
Pembangunan harus memenuhi standar teknis dan memperhitungkan karakteristik wilayah.
Kedua, transparansi.
Masyarakat harus dapat mengetahui apa yang dibangun, berapa nilai pekerjaannya, kapan target penyelesaiannya, dan apa manfaat yang dituju.
Ketiga, pengukuran dampak.
Pemerintah perlu mengembangkan indikator yang tidak hanya mengukur progres fisik, tetapi juga perubahan sosial dan ekonomi setelah proyek selesai.
Dengan tiga hal tersebut, MYP dapat menjadi lebih dari sekadar program pembangunan infrastruktur.
Ia dapat menjadi model pembangunan berbasis hasil.
MYP dan Masa Depan Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan tidak kekurangan potensi.
Pertanian memiliki kekuatan.
Perikanan memiliki peluang.
Pariwisata memiliki kekayaan.
UMKM memiliki kreativitas.
Sumber daya manusia memiliki kemampuan.
Tetapi semua potensi tersebut membutuhkan konektivitas.
Potensi yang tidak terhubung dengan pasar akan sulit berkembang.
Produk yang tidak memiliki akses distribusi akan kehilangan daya saing.
Daerah yang sulit dijangkau akan lebih lambat memperoleh manfaat pembangunan.
Karena itu, jalan menjadi salah satu kunci untuk membuka potensi tersebut.
MYP memberikan kesempatan untuk memperkuat kunci itu.
Namun kunci tersebut baru memiliki arti ketika pintu benar-benar terbuka.
Pintu itu adalah kesempatan ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Bukan Sekadar Jalan Mulus
Pada akhirnya, keberhasilan MYP tidak seharusnya diukur hanya dari seberapa mulus jalan setelah proyek selesai.
Jalan yang mulus adalah awal.
Dampak ekonomi adalah tujuan antara.
Peningkatan kualitas hidup masyarakat adalah tujuan akhirnya.
Jika seorang petani dapat membawa hasil panennya lebih cepat ke pasar, MYP telah berdampak.
Jika seorang anak dapat pergi ke sekolah dengan lebih aman, MYP telah berdampak.
Jika seorang pasien dapat mencapai fasilitas kesehatan dengan waktu yang lebih singkat, MYP telah berdampak.
Jika UMKM dapat memperluas pasar karena distribusi semakin mudah, MYP telah berdampak.
Dan jika kabupaten serta kota di Sulawesi Selatan semakin terhubung sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, maka MYP telah menjalankan fungsi strategisnya.
Sebab pada akhirnya, pembangunan jalan bukan tentang aspal yang membentang dari satu kilometer ke kilometer berikutnya.
Pembangunan jalan adalah tentang manusia yang bergerak.
Tentang ekonomi yang tumbuh.
Tentang desa yang semakin terbuka.
Tentang peluang yang semakin dekat.
Tentang daerah yang tidak lagi merasa jauh dari pusat pembangunan.
MYP Sulawesi Selatan harus meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada umur konstruksinya.
Jejak itu harus terlihat dalam turunnya biaya perjalanan, meningkatnya akses, tumbuhnya ekonomi lokal, membaiknya pelayanan dasar, dan semakin kuatnya hubungan antardaerah.
Karena itu, ukuran keberhasilan MYP bukanlah:
“Seberapa banyak jalan yang berhasil kita bangun?”
Melainkan:
“Seberapa banyak kehidupan yang berhasil kita ubah?”
Jika jawabannya semakin banyak, maka di sanalah kita menemukan makna sesungguhnya dari MYP Sulsel Berdampak.
Infrastruktur kuat bukan sekadar jalan yang tahan lama.
Infrastruktur kuat adalah jalan yang membawa masyarakat menuju masa depan yang lebih baik.
Sulsel maju bukan sekadar karena konektivitasnya semakin panjang.
Sulsel maju karena semakin banyak masyarakat yang memperoleh kesempatan untuk tumbuh.
Dan Sulsel berkarakter adalah Sulsel yang membangun dengan integritas, menggunakan infrastruktur dengan tanggung jawab, serta memastikan pembangunan hari ini menjadi warisan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Sumber data yang saya jadikan dasar
Saya sengaja menggunakan sumber primer/otoritatif sebanyak mungkin:
- BPS Sulawesi Selatan — tabel panjang jalan menurut kabupaten/kota dan kewenangan pemerintahan tahun 2025. (BPS Sulawesi Selatan)
- BPS Sulawesi Selatan, PDRB Kabupaten/Kota 2021–2025, dirilis 30 April 2026. (BPS Sulawesi Selatan)
- Dinas PUTR Sulsel — perkembangan MYP Paket 3 tahun 2026, termasuk penanganan 254,85 km pada 15 ruas. (Putra Sulsel)
- Dinas PUTR Sulsel — MYP Paket IV dan nilai kontrak sekitar Rp615,6 miliar. (Putra Sulsel)
- Dinas PUTR Sulsel — perkembangan Paket 3 dan ruas Paleteang–Malimpung–Batas Enrekang. (Putra Sulsel)
- Bappelitbangda Sulsel — dokumen RKPD 2026 sebagai dokumen perencanaan resmi daerah. (Bappelitbangda Sulselprov)



.jpg)

