▴BPSDM PROVINSI SULAWESI SELATAN▴ - MULTITASKING PADA WIDYAISWARA: ANTARA EFISIENSI DAN KUALITAS
- PEMPROV SULSEL GELAR SEMINAR NASIONAL MEMPERINGATI HUT KORPRI KE 53
- PELAKSANAAN ORIENTASI ANGGOTA DPRD KAB. SINJAI DI HOTEL MERCURE
- PJ GUBERNUR SULSEL RESMI DINYATAKAN SEBAGAI PEJABAT GUBERNUR TERBAIK DI INDONESIA
- HARI KETIGA PELAKSANAAN ORIENTASI ANGGOTA DPRD KAB. SINJAI
- HARI KETIGA PELAKSANAAN ORIENTASI ANGGOTA DPRD KAB. SINJAI
- PEMBEKALAN ASN BKPSDM PROVINSI PAPUA PEGUNUNGAN
- KUNJUNGAN KERJA BKPSDM PROVINSI PAPUA PEGUNUNGAN KE BPSDM PROV. SULSEL
- BELAJAR MENGAJI YANG DILAKSANAKAN DI MASJID KAMPUS 2 BPSDM PROV. SULSEL
- BPSDM PROV. SULSEL BELAJAR MENGAJI DILAKSANAKAN DI MASJID KAMPUS II
PENGEMBANGAN KOMPETENSI DIAGNOSTIC READING BAGI PEMIMPIN PERUBAHAN
Berita Terkait
- BPSDM PROV. SULSEL BERDUKA0
- APEL PAGI BPSDM DIPIMPIN LANGSUNG KEPALA BADAN0
- SOSIALISASI JABATAN FUNGSIONAL ANALIS KEBIJAKAN OLEH LAN RI0
- SARANA PERPUSTAKAAN BPSDM PROV. SULSEL0
- VISITASI AKREDITASI LEMBAGA DIKLAT OLEH TIM ASESOR LAN RI0
- KUNJUNGAN KERJA TP2D DALAM RANGKA PEMBAHASAN PRA RKA TAHUN 20190
- MANAJEMEN SDM INSTANSI PEMERINTAH SEMAKIN MEMBAIK0
- MEMBANGUN KEPRIBADIAN ASN PROFESIONAL MELALUI ANEKA0
- HARI JADI SULSEL KE – 349 DILAKSANAKAN DPRD PROV. SULSEL0
- TIPS MEMILIH JUDUL PROYEK PERUBAHAN YANG BAIK0
Berita Populer
- MEMAHAMI PROSEDUR PEMBERIAN INFORMED CONSENT DALAM PRAKTEK KEDOKTERAN
- MENEMUKAN KEMBALI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI
- ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH PENGETAHUAN WAJIB BAGI PARA PEMIMPIN DAERAH
- MENGENAL SINGKATAN PEJABAT DALAM PEMERINTAHAN Plt. Plh. Pj. dan Pjs.
- APA ITU ASN DAN PPPK ?
- KENALI PELATIHAN PEMBEKALAN / ORIENTASI PEGAWAI PEMERINTAH DENGAN PERJANJIAN KERJA (PPPK).
- MENGENAL JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS BAGIAN KE DUA
- INTEGRITAS DAN PROFESIONALISME ASN DI ERA MILENIAL
- INTEGRITAS DAN KEPEMIMPINAN
- MENGENAL SERVANT LEADERSHIP

Keterangan Gambar : OLEH : Dr.dr.Ampera Matippanna, S.Ked. MH (Staf Bidang Pengembangan dan Inovasi Kediklatan BPSDM Sulsel)
Pendahuluan
Dalam setiap penyelenggaraan diklat kepemimpinan, Diagnostic Reading (DR) merupakan materi inti yang harus dikuasai dengan baik oleh setiap peserta. Materi Diagnostic Reading merupakan pondasi dari struktur kurikulum Diklat Kepemimpinan Pola Baru sebagai sebuah kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang pemimpin perubahan dalam melakukan diagnosa kebutuhan perubahan organisasi.
Kompetensi Diagnostic Reading akan melengkapi seorang pemimpin perubahan dalam menemu kenali berbagai pokok permasalahan organisasi untuk dilakukan intervensi atau terobosan sebagai sebuah treatment untuk memulihkan kondisi organisasi ke arah yang dinginkan sesuai dengan arah kebijakan organisasi. Sebuah adagium klasik yang sangat bersesuaian dengan Diagnostic Reading adalah “Bene Diagnoscitur Bene Curatur“ yang artinya adalah segala sesuatu yang diagnosa dengan baik akan menghasilkan terapi yang baik pula.
Terminologi Diagnostic Reading adalah sebuah penamaan yang memiliki banyak kesesuaian dengan bidang ilmu kedokteran khususnya pada bidang ilmu diagnostic penyakit. Diagnostic penyakit adalah hasil dari sebuah upaya yang dilakukan oleh seorang dokter dalam mengidentifikasi berbagai jenis penyakit yang dialami oleh seorang penderita berdasarkan tanda-tanda atau gejala-gejala (symtoms) yang ditemukan pada seorang penderita. Sedangkan Diagnostic reading dalam kepemimpinan adalah sebuah upaya atau proses yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk mencari, menemukan dan mengidentifikasi berbagai jenis penyebab permasalahan sehingga organisasi berjalan stagnan, lambat dan tidak produktif sesuai dengan indikator-indikator capaian kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya.
Hasil dari Diagnostic penyakit maupun Diagnostic reading adalah sebuah kesimpulan atas faktor yang menyebabkan (causa) timbulnya sebuah penyakit pada manusia atau organisasi yang dijadikan sebagai kerangka berfikir utama untuk melakukan intervensi sehingga orang atau organisasi tersebut dapat sehat kembali. Semakin baik proses diganostik yang dilakukan maka semakin baik pula hasil kesimpulan yang diperoleh (diagnose), maka akan semakin baik pula terapi yang direkomendasikan atau dilakukan oleh seorang dokter ataupun pemimpin perubahan.
CAUSA DAN SYMTOMS
Tidak sedikit reformer yang terjebak dalam persoalan Diagnostic reading sebuah organisasi. Mereka terjebak dalam kesulitan menentukan pokok permasalahan yang dihadapi oleh sebuah organisasi sehingga tidak mampu menentukan dengan baik dan benar diagnose organisasi yang pada gilirannya akan mengalami kesulitan didalam melakukan intervensi untuk sebuah proyek perubahan.
Ibarat seseorang yang sedang menderita sebuah penyakit, maka langkah-langkah yang harus dilakukan oleh seorang dokter dalam melakukan tindakan Diagnostic adalah memilah-milah gejala penyakit (symtoms) yang berkenaan dengan salah satu jenis penyakit untuk mencari mengapa gejala tersebut muncul dan apa penyebab utamanya (causa). Setelah memilah antara gejala (symtoms) dan menemukan penyebab (causa), barulah dilakukan intervensi (treatment) yang terutama di tujukan pada causanya dan tidak cukup hanya pada mengatasi gejala-gejala yang muncul.
Demikian halnya dengan seorang pemimpin perubahan dalam melakukan diagnose organisasi, harus mampu melakukan intervensi yang tepat dan akurat atas penyakit yang dialami oleh sebuah organisasi. Seorang pemimpin harus tau yang mana yang merupakan gejala penyakit organisasi yang mana yang menjadi penyebab timbulnya penyakit organisasi. Kesalahan dalam menentukan penyebab penyakit organisasi akan berimbas pada kesalahan dalam melakukan intervensi dan inovasi perubahan organisasi. Kesalahan dalam melakukan intervensi dan inovasi perubahan akan menyebabkan proyek perubahan tersebut menjadi tidak efektif, efisien , dan berkesinambungan .
Untuk memahami alur pikir tersebut di atas dapat digambarkan dengan sebuah contoh kasus yang sering menjadi penyakit dalam sebuah organisasi ,misalnya sebagai berikut :
1. Keluhan utama : Rendahnya prestasi Kerja ASN
2. Gejala-gejala yang timbul :
Selalu datang terlambat, Tidak berpakaian lengkap, Malas bekerja, Pulang cepat, Tidak upacara dan apel, Lebih suka ngerumpi, dll,
3. Melakukan Tindakan Diagnostic
Melakukan obeservasi : pemimpin perubahan melakukan observasi terhadap munculnya gejala-gejala yang terjadi dalam organisasi atau unit kerja . Apakah gejala tersebut telah berlangsung lama (kronis) atau mendadak (akut) dan mulai mengumpukan dan mencatatkan bukti-bukti pendukung terjadinya gejala-gejala tersebut .
Melakukan wawancara: Setelah melakukan observasi secara cermat, maka selanjutnya dilakukan wawancara terhadap sejumlah ASN yang memperlihatkan gejala atau perilaku berkinerja rendah seperti tersebut diatas baik secara langsung (autoanamnese) maupun kepada orang lain yang mengerti dan paham atas kemungkinan penyebab terjadinya gejala-gejala tersebut (heteroanamnese). Dalam hal ini pemimpin perubahan (reformer) harus berusaha sedapat mungkin melakukan wawancara secara mendalam untuk menggali dan mendapatkan faktor-faktor yang menjadi alasan utama terjadinya gejala-gejala tersebut.
Membuat quisioner : Selain melalui wawancara, informasi dapat juga diperoleh melalui quisioner yang telah disusun sedemikian hingga untuk mendapatkan jawaban atas alasan mengapa gejala-gejala tersebut muncul dalam sebuah organisasi atau unit kerja.
Mengumpulkan Bukti fisik/ pendukung : Mengumpulkan bukti-bukti fisik/ pendukung yang memperkuat dugaan rendahnya kinerja aparatur, seperti data-data finger ceckclok, laporan pelaksanaan kegiatan, laporan capaian kinerja, realisasi program kegiatan dan anggaran dan lain sebagainya.
Menganalisa Data : Semua data yang di peroleh dicatat dan dikumpulkan, kemudian dipilah-pilah dan dianalisa yang mana yang paling bersesuaian dengan gejala-gejala yang muncul untuk menentukan penyberhubungan dengan anggaran
a. 75% ASN mengatakan kurangnya kepedulian pimpinan terhadap kinerja aparatur
b. 20% ASN mengatakan tidak jelas job description yang diberikan pada ASN pada unit kerjanya
c. 5% mengatakan bahwa pembagian kesejahteraan tidak merata dalam organisasi atau unit kerja
Dari hasil analisa data tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa penyakit rendahnya capaian kinerja ASN karena Kurang optimalnya Peran Kepemimpinan dalam mendukung capaian kinerja ASN
4. Intervensi : Peningkatan peran Kepemimpinan
5. Proyek Perubahan : Peningkatan peran kepemimpinan dalam capaian kinerja ASN yang optimal.
Dari uraian tersebut diatas nampaklah bahwa Diagnostic reading adalah sebuah kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin perubahan untuk mendiagnosa penyakit organisasi, menemukan penyebab penyakit dan melakukan intervensi dengan tepat agar roda organisasi berjalan dengan baik, capaian kinerja menjadi lebih optimal dan meningkatkan kepuasan publik atas produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh organisasi tersebut.
Selanjutnya terkait kompetensi Diagnostic Reading, Pettigrew, 1997, mengatakan bahwa Diagnosa organisasi akan menjawab tiga pertanyaan penting yaitu “Mengapa organisasi harus berubah?”, “Bagaimana melakukan perubahan tersebut”, dan “Apakah yang akan diubah?” Lebih lanjut, Janicijevic (2010) menyatakan diagnosa organisasi adalah suatu metode yang digunakan untuk menganalisis organisasi dalam rangka mengidentifikasi kelemahan organisasi sehingga dapat dinetralisasi melalui perubahan organisasi. Diagnosa organisasi melibatkan diagnosa atau penilaian tingkat fungsional suatu organisasi pada saat ini dalam rangka merancang intervensi perubahan yang sesuai.
KOMPETENSI DIAGNOSTIC READING
Dalam upaya pengembangan kompetensi Diagnostic reading bagi seorang pemimpin perubahan, maka HR Intelegence Report (Hindri Asmoko,2015 Balai Diklat Kepemimpinan, Pusdiklat Pengembangan SDM, BPPK, Magelang) memperkenalkan beberapa model mendiagnosa organisasi yang dapat dilakukan, yaitu antara lain :
a. Force Field Analysis (FFA)
Analisis Medan Kekuatan atau Force Field Analysis (FFA) merupakan suatu analisis yang digunakan untuk perubahan organisasi menuju kondisi yang lebih baik. Dalam analisis ini, untuk berhasilnya perubahan kita akan menganalisis sisi kekuatan pendorong dan penghambat yang ada di organisasi. Dengan mengetahui kekuatan pendorong dan penghambat kunci, organisasi akan menggunakan kekuatan pendorong kunci dan mengurangi hambatan kunci untuk mengefektifkan perubahan.
b. Leavitt’s Model
Model ini tidak membagi faktor menjadi faktor pendorong dan penghambat seperti pada analisis FFA. Model ini mengkategorikan variabel menjadi empat variabel yaitu struktur, tugas, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM). Variabel struktur mengacu pada sistem otoritas, sistem komunikasi, dan alur kerja dalam organisasi. Variabel tugas mengacu pada tugas dan sub tugas yang berhubungan dengan penyediaan barang dan jasa. Variabel teknologi meliputi semua peralatan dan mesin yang diperlukan oleh variabel tugas. Variabel SDM mengacu pada orang yang akan merealisasikan tujuan organisasi. Model ini menyatakan bahwa antar variabel terdapat saling ketergantungan. Perubahan pada satu variabel akan mempengaruhi variabel lainnya. Demikian pula apabila melakukan intervensi terhadap satu variabel juga harus menganalisis pengaruhnya terhadap variabel yang lain.
c. Open System Theory
Beberapa model diagnosis organisasi menggunakan teori open system ini sebagai asumsi dasar. Premis dari teori ini adalah organisasi dianggap sebagai sistem sosial yang mempunyai ketergantungan dengan lingkungannya. Sebagai suatu sistem, model ini memandang adanya siklus yang meliputi input, transformasi (proses), dan output dalam suatu organisasi. Output merupakan hasil dari proses input yang digunakan. Output tersebut nantinya akan menjadi umpan balik untuk input selanjutnya. Perubahan yang akan dilakukan pada suatu organisasi tidak lepas dari siklus ini. Oleh karena itu, perubahan di dalam organisasi dilakukan dengan mengintervensi sisi input dan proses yang dilakukan sehingga output yang dihasilkan akan mengalami perubahan.
d. McKinsey 7S Framework
Model ini dikembangkan oleh perusahaan konsultan McKinsey and Company berdasarkan hasil riset terapan yang telah dilakukan pada industri dan bisnis. Pada model ini terdapat tujuh variabel yang semua variabelnya dimulai dengan huruf S sehingga disingkat menjadi 7S. Ketujuh variabel tersebut adalah struktur, strategi, sistem, skill, style, staff, dan shared values (nilai)
Struktur didefinisikan sebagai kerangka organisasi atau bagan organisasi. Strategi merupakan rencana atau arah tindakan dalam pengalokasian sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sistem adalah proses dan prosedur rutin yang dilaksanakan oleh organisasi. Skill menunjukkan kapabilitas staf yang ada di organisasi. Staff digambarkan dalam bentuk kategori personil pada organisasi. Style adalah cara manajer kunci bertindak dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Share Values merupakan konsep arahan yang dibagikan kepada anggota organisasi.
Dari beberapa model mendiagnosa organisasi tersebut sangat jelas bahwa Diagnostic reading adalah salah satu kompetensi utama yang harus dikuasai oleh seorang pemimpin perubahan dalam melakukan inovasi perubahan untuk meningkatkan dan megembangkan sebuah organisasi.






